Wednesday, March 30, 2011

[Article] Globe Trotting: Southern Splendid [Majalah JalanJalan April, 2011]

Original Article:

Sejak adanya penerbangan langsung dari Indonesia menuju Bandara Internasional Phuket, banyak warganegara Indonesia yang memilih Phuket sebagai tujuan wisata favorit. Phuket terletak di sebelah selatan Negara Thailand, dengan luas wilayah lebih dari 540 kilometer persegi. Wilayah ini berpenduduk mayoritas beragama Budha, dan juga Islam sebesar 17 persen.

Ketimbang menggunakan jasa travel untuk berlibur ke Phuket, lebih baik memutuskan untuk pergi sendiri dengan bekal pengetahuan yang cukup. Harga yang ditawarkan oleh travel berkisar antara 3,5 juta - 4 juta Rupiah untuk 4 hari 3 malam, dengan harga yang sama, saya bisa bertahan di Phuket selama 6 hari 5 malam tanpa menggunakan jasa travel. Selain itu, ada juga keuntungan immaterial yang didapat, saya dapat menentukan sendiri berapa lama waktu yang bisa dihabiskan untuk berbelanja, waktu untuk makan siang, dan waktu untuk bersantai.

Hal penting yang wajib dilakukan sebelum hari keberangkatan adalah research, mencari tujuan wisata yang sesuai dengan kebutuhan, dan memang belum pernah dikunjungi. Kemudahan akses internet membuat segalanya menjadi jauh lebih mudah, apapun mengenai Phuket bisa didapat. Misalnya, bagaimana perilaku penduduk disana? Oh, bagaimana dengan makanan disana? Apakah cocok dengan lidah oriental saya? Apakah aman untuk kita jika menggunakan bus umum? Atau bahkan bagaimana melakukan pemesanan hotel dan tiket pesawat secara online. Lakukan research sebanyak-banyaknya guna mendapatkan segala informasi yang anda butuhkan, dan juga untuk mendapatkan akomodasi yang paling sesuai dengan kantong.

Menurut jadwal yang tertera pada tiket keberangkatan, waktu tempuh untuk sampai di Phuket adalah dua setengah jam, saya beruntung bisa tiba 30 menit lebih awal. Setelah selesai dengan urusan imigrasi, kemudian bergegas keluar dari bandara mencari sebuah loket Taxi Meter. Sebuah loket taksi berwarna kuning berada di sebelah kanan pintu utama bandara. Berbekal dari hasil research, jangan menerima tawaran jasa taksi atau mini-bus di dalam gedung bandara, karena harganya bisa lebih mahal dua kali lipat daripada menggunakan taksi di loket Taxi Meter. Beberapa tujuan utama setelah sampai di Phuket adalah pantai yang menghadap Laut Andaman, yang berada di wilayah Patong dan Krabi.

Saya menentukan tujuan ke Patong, untuk menuju kesana dibutuhkan biaya kurang lebih 500 Baht untuk taksi. Selama 45 menit perjalanan dari bandara menuju Patong, saya dibawa oleh supir taksi ke agen penginapan yang juga merangkap sebagai agen tur, beruntung penginapan sudah dipesan jauh sebelum hari keberangkatan, saya sempat takut si sopir taksi akan membawa saya ke tempat yang tidak diinginkan, namun jangan khawatir, katakan saja sejujurnya, mereka akan dengan sopan mempersilahkan kita pergi. Fiuh! Jalan-jalan di Phuket lebih lengang dibandingkan dengan Jakarta. Kendaraan roda dua pun begitu tertib berjalan di lajur paling kiri, tanpa mengganggu kendaraan roda empat yang berada di lajur sebelah kanannya. Satu hal yang mencolok jika dibedakan dengan Jakarta adalah, pengemudi mobil atau motor jarang membunyikan klakson mereka.

Tiba di Phuket pada siang hari, plus 45 menit perjalanan dari bandara menuju Patong, saya masih mempunyai cukup waktu untuk mempelajari jalan di sekitar hotel. Harga hotel pada low season (Mei, Juli, September, dan Oktober) berkisar antara 500-600 Baht per malam, tanpa sarapan. Bila pada high season (Des-Feb) harga tersebut melonjak tajam hingga mencapai 1500 Baht per malam, tanpa sarapan. Terbiasa menawar bajaj yang ada di Jakarta membuat saya terbiasa menawar apapun yang ditawarkan hingga sepertiganya, voila! Saya mendapatkan kamar seharga 800 Baht dengan tarif 500 Baht per malam. Perjalanan berlanjut dengan mencari kios-kios yang menawarkan paket tur untuk mengunjungi tempat-tempat wisata menarik seperti: Phi Phi Island, Phang Nga Bay, atau Coral Island.


Patong terkenal dengan pantainya, boleh dibilang sebelas-dua belas dengan daerah Kuta dan Legian. Pantai berpasir putih yang panjang, serta pantainya yang landai sangat memanjakan mata dengan panorama yang disuguhkan, tanpa terganggu dengan sampah. Ini yang membuat Patong “dua belas”. Penduduk sekitar dan wisatawan asing sangat peduli pada kebersihan pantai, tidak seperti di Indonesia. Banyak terdapat kursi santai yang disewakan untuk berjemur, Thai Massage, atau kepang rambut. Mirip seperti jalan Legian, disana juga banyak terdapat hotel, bar, atau cafe bagi mereka yang senang hiburan malam. Jalan Legian ala Patong dapat ditemui di Bangla Road. Setiap sore, mobil khusus untuk promosi acara Thai Boxing berkeliling dengan beberapa orang diatas atap mobil yang bergaya seperti petarung, kreatif, mereka pun mendandani atap mobil seperti layaknya ring pertandingan. Ada satu pusat perbelanjaan besar di kawasan Patong, sebuah mall dengan nama Jungceylon.

Saya mengunjungi mall ini untuk sekedar menyeruput kopi di sore hari. Saya pun menemukan beragam jenis makanan yang ada, masakan asli Thailand, masakan Eropa, hingga masakan China. Bagi saya yang tidak suka makanan pedas, saya memutuskan untuk memilih jenis makanan paling aman yang bisa saya makan, yakni fast-food, ada beberapa pilihan makanan seperti KFC, McDonald’s, atau Burger King dengan harga relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan harga di Tanah Air. Food court terdapat di lantai basement mall-anda bisa menemukan makanan halal disini-, harga makanan di food court lebih murah, satu paket nasi goreng dibanderol dengan harga 70-100 Baht. Di luar mall, ternyata ada jajanan yang lebih murah lagi, tepatnya di sebelah Banzan Market, Sai Sam Road, persis di seberang Jungceylon. Jajanan yang ditawarkan seperti barbeque sapi atau ayam, aneka nasi dengan lauk, mi goreng, nasi goreng, hingga sushi yang dijual dengan harga 5-7 Baht per satuan. Menurut pantauan saya, area ini mulai buka pada sore hari sekitar pukul lima.

Jalan-jalan saya berlanjut setelah beberapa menit istirahat di hotel, tujuan berikutnya adalah pasar swalayan. Siapa sangka Carrefour juga bisa menjadi tempat wisata yang menarik, kita dapat melihat berbagai barang khas Thailand dijual disini, liquor shop, atau suvenir khas Thailand. Belum genap 24 jam saya berada di Phuket, saya sudah membeli beberapa oleh-oleh untuk para kerabat di Tanah Air berupa kaos dengan sablon gambar-gambar yang berhubungan dengan Thailand. Harga yang ditawarkan terbilang murah, untuk sebuah kaos dihargai antara 70-90 Baht.

Day Two

Satu hari sebelumnya, saya telah membeli paket perjalanan mengunjungi beberapa tempat wisata favorit. Phi Phi Islands adalah kepulauan tujuan utama wisatawan yang berkunjung ke Phuket baik mereka yang singgah di Patong ataupun Krabi. Perjalanan menuju Phi Phi Islands ditempuh dengan menggunakan speedboat yang dapat menampung kurang lebih 30 penumpang. Membeli jasa tour & travel artinya saya harus rela bepergian bersama dengan wisatawan lainnya yang tidak saling kenal satu sama lain. Saya akan dibawa mengitari kepulauan Phi Phi diantaranya: Maya Bay yang sempat dijadikan tempat syuting film The Beach yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio, Phi Phi Don, Phi Phi Ley, dan Khai Island. Menurut jadwal, kami akan dibawa menuju spot menarik untuk snorkeling, atau diving. Tur dimulai pada pagi hari sekitar pukul 9 hingga pukul 5 sore. Bagaimana dengan makan siang?! Oh, ternyata saya akan mendapatkan makan siang, air mineral, soft drink, dan buah-buahan di sebuah restoran di Phi Phi Don. Setelah puas memanjakan mata dengan pemandangan laut yang indah, formasi bebatuan yang ciamik, serta berfoto ria di tempat Leonardo DiCaprio melakukan adegan filmnya, kini perut saya mulai mengeluarkan sumpah serapah untuk diberi makan. “Number Five..!! Number Five..” begitu teriak pemandu wisata kami saat memanggil kawanan wisatawan yang menumpang speedboat bernomor lima untuk segera naik ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke Phi Phi Don, Lunch time! Beberapa menu yang disajikan untuk santap siang adalah ayam goreng, ikan goreng asam manis, saya tidak tahu pasti apakah itu ikan gurame atau bukan, sup tom yam, spaghetti, serta sayur semacam cap cay. Perut kenyang, hati tenang. Nahkoda speedboat kembali mengajak kami berayun menghantam ombak ke tujuan berikutnya.

Sedikit tips dari saya adalah pastikan bahwa anda sudah berada di lobby hotel pada saat jam penjemputan, mini bus yang akan membawa kita menuju dermaga biasanya selalu tepat waktu. Paket tur yang dibeli sudah termasuk dengan biaya peminjaman perlengkapan snorkeling, kecuali fin untuk renang. Penyewaan fin untuk renang dikenakan harga 100 Baht untuk setiap pasang. Setiap tur juga menyertakan layanan antar jemput di dalam paket tur, dari hotel ke dermaga dan dari dermaga kembali ke hotel dengan cuma-cuma.

Untuk bisa ikut dalam tur ini, saya diminta membayar sebesar 2600 Baht, seperti yang tertera di dalam selebaran yang ada di agen-agen tur, namun ingat harga yang diminta bisa kita tawar. Tawarlah separuh harga terlebih dahulu, jika anda pandai tawar-menawar, agen tur bisa memberikan harga sekitar 900-1100 Baht per orang.

Day Three

Dijemput pada pukul 8.30 pagi, seorang supir mini bus siap mengantar saya ke dermaga. Tujuan berikutnya adalah Phang Nga Bay!

Phang Nga Bay menawarkan sensasi yang serupa dengan Phi Phi Islands, dengan formasi kepulauan yang berbaris, kita akan dibawa mengitari pulau-pulau indah dengan menggunakan kano. Agen travel yang akan membawa kami berkeliling kepulauan ini menggunakan kapal yang lebih besar, bukan seperti speedboat yang digunakan dalam tur ke Phi Phi Islands. Setiap kapal dilengkapi dengan beberapa kano yang akan membawa setiap wisatawan masuk ke dalam gua-gua indah yang berada tepat di bawah tebing pulau. Saya buru-buru menggunakan safety jacket karena saya tidak mahir (bisa) berenang. Aman! saya hanya perlu duduk santai, menikmati pemandangan serta keajaiban alam dari atas kano, jika kemudian ada pertanyaan, apakah harus mengendarai kano itu sendiri? Tidak. Tetapi ada juru dayung yang akan mengantarkan kita ke lokasi-lokasi tujuan. Tur ini akan membawa peserta tur ke James Bond Island, yaitu sebuah pulau yang juga disebut Khao Ta Pu oleh penduduk lokal, ikon dari kepulauan Phang Nga. Pulau ini dikenal dengan James Bond Island karena pernah dijadikan lokasi syuting film James Bond, “The Man with the Golden Gun”. Setelah mengeluarkan beberapa pose andalan untuk berfoto, pemandu wisata kembali meneriakkan nomor kapalnya, tanda perjalanan akan segera dilanjutkan. Kemudian kami dibawa menuju Ko Hong, dan Ko Phanak. Bersama petugas yang mengemudikan kano, kami diajak melihat sususan stalagtit dan stalagmit di dalam gua, beberapa gua hanya dapat dimasuki pada kondisi air surut, bahkan waktu itu saya diminta untuk merebahkan diri di atas kano untuk dapat masuk ke dalam gua yang berujung laguna di dalamnya, fantastis!. Di tengah perjalanan, kami diajak mengunjungi permukiman muslim terapung di Panyee Island, permukiman ini berada di belakang tebing pulau, sehingga air laut cukup tenang dan dijadikan tempat tinggal seperti rumah panggung diatas laut. Disini banyak penjual macam-macam suvenir dari pakaian hingga aksesoris. Tur ini dibanderol dengan harga serupa seperti tur Phi Phi Island, sekitar 2600-2800 Baht per orang, dengan tawar-menawar, saya dapat menikmati paket wisata ini dengan kisaran harga 1000-1200 Baht per orang termasuk makan siang, air mineral, buah-buahan, dan minuman ringan diatas kapal, itulah jawaban mengapa tur ini menggunakan kapal yang lebih besar. Paket tur ini juga memberikan jasa antar jemput dari hotel ke dermaga dan sebaliknya dengan tanpa tambahan biaya.

Day Four

Saya sungguh tidak menyia-nyiakan waktu libur saya, next stop: Coral Island!

Coral Island biasa disebut penduduk lokal dengan nama Koh Hae. Dengan pasir putih yang bersih, kursi-kursi santai yang disediakan, juga lambaian nyiur kelapa di kejauhan. Ada beberapa sarana olahraga air di pantai ini, seperti Parasailing, Scuba Diving, Banana Boat, atau bahkan Sea Walking. Berbeda dengan tur-tur sebelumnya, hari ini kami hanya akan dibawa ke satu tempat tujuan. Dengan perjalanan yang cukup singkat dari dermaga, kurang lebih 15 menit saja, Welcome to Coral Island. Kegiatan yang ditawarkan disini sebagian besar adalah aktifitas bawah laut dengan keindahan alam bawah lautnya. Pihak tur akan meminjamkan life jacket dan perlengkapan snorkeling dengan cuma-cuma. Rangkaian kegiatan dalam tur ini memang tidak terlalu banyak memakan energi, dengan perjalanan yang singkat, dan waktu yang cukup panjang, pulau ini memang diminati oleh wisatawan untuk bersantai. Bagi yang tidak mahir berenang, tentu jangan lewatkan kesempatan untuk bisa berjalan dibawah laut melihat cantiknya ikan-ikan dibawah sana langsung dengan mata kepala anda sendiri. Sea walking sangat saya rekomendasikan bagi mereka yang tidak mahir berenang karena kegiatan ini tidak membutuhkan kemampuan untuk berenang sama sekali, kami akan dibawa menyelam ke kedalaman laut, melihat cantiknya terumbu karang dan ikan-ikan yang berkerumun di depan mata. Gendang telinga saya sangat sakit ketika masuk ke kedalaman laut, namun sakit itu terbayar lunas dengan pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Sisa waktu yang ada bisa dhabiskan untuk berjemur di tepi pantai, dengan sekaleng bir ditangan serta iPod yang menyala. Paket tur ini ditawarkan dengan harga lebih mahal daripada dua tur sebelumnya, mengunjungi Coral Island dengan paket untuk Sea Walking selama 30 menit dikenakan harga 1300-1500 Baht per orang jika anda pandai menawar, sudah termasuk dengan makan siang, air mineral, minuman ringan, buah-buahan, serta layanan antar jemput dari hotel ke dermaga dan sebaliknya.

Day Five or Any Other Day

Di Patong masih banyak tempat wisata menarik lainnya, beberapa yang populer adalah Bangla Road sebagai pusat hiburan malam, dan Wat Chalong, sebuah kuil umat Budha yang indah. Bangla Road ditutup untuk kendaraan bermotor pada malam hari, memberikan keleluasaan wisatawan untuk berjalan kaki menyusuri jalan ini. Hal yang kita kenal mengenai Thailand adalah ladyboy, di Bangla Road banyak ladyboy yang meliak liuk bagai model profesional di dalam beberapa bar tertentu. Biasanya mereka akan meminta tarif sebesar 100 Baht untuk sekali berfoto dengan mereka, batasi saja foto-foto ria dengan ladyboy sebanyak dua kali foto dengan dua ladyboy yang berbeda, atau mereka akan berkumpul disekitar anda untuk meminta uang.

Tips :

  • Bawalah kalkulator, tidak banyak penduduk sekitar yang mahir berbahasa Inggris.
  • Cetaklah peta hotel anda, untuk memudahkan supir taksi mencari alamat hotel anda. Kenali logat bahasa Thailand yang menyebut hotel dengan intonasi aneh (hotew)
  • Tawarlah segala sesuatu yang ingin anda beli
  • Ada baiknya anda mempersiapkan payung atau jas hujan jika anda bepergian pada low season. Pada saat low season, ombak dilaut akan besar, persiapkan stamina anda agar tidak mengganggu kesehatan anda selama perjalanan.
  • Jika anda membawa serta orang tua dalam perjalanan anda, ada baiknya anda pergi pada saat middle season atau high season.
  • Atur jadwal anda sebaik mungkin, Tur Coral Island bisa menjadi pilihan tur terakhir anda, karena tidak terlalu banyak aktifitas di Coral Island, maka anda akan punya waktu yang cukup untuk istirahat. (tur ini akan mengantar anda kembali ke hotel pada pukul 3 atau 4 sore.)
  • Perhatikan jam penerbangan anda, sebuah maskapai penerbangan kadang hanya punya satu kali jam penerbangan dari Phuket kembali ke Tanah Air yakni pada pukul 8 pagi.

Sunday, March 13, 2011

Love is NOT Blind

Bagi beberapa orang istilah 'Love is Blind' itu sering terjadi tanpa disadari, biasanya justru disadari oleh teman-teman orang yang sedang dilanda kebutaan. Wajar memang kebutaan tersebut datang karena sedang dilanda cinta, semua yang dirasa begitu bahagia, begitu excited, tapi kadang begitu bodoh. Penyakit kebutaan ini biasanya dialami pada awal seseorang memulai hubungan dengan lawan jenisnya, parahnya lagi, ada yang mengalami kebutaan berbanding lurus dengan umur hubungan mereka.

Kebutaan tiap orang berbeda-beda, beberapa tanda kebutaan malah membuat saya -atau orang lain yang melihatnya- menjadi tertawa terbahak-bahak, atau ada pula yang membuat saya ngedumel dalam hati: "sukurin luh!" Beberapa jam yang lalu, ada satu hal yang menggelitik saya. Salah satu teman di facebook saya mempunyai account dengan nama Niko Untuk Bella, ia muncul di tab top news saya karena baru beberapa menit sebelumnya ia menyatakan telah single. Dua menit setelahnya, namanya kini berubah menjadi: Niko Memang Jelek. Dan foto yang dipasang juga berubah dari berdua, kini sendiri.

Ada pula teman yang sengaja menuliskan nama lengkap pacarnya di tubuh dengan tinta permanen, alias tattoo. Kebutaannya tampak semakin mengerikan. Bagaimana kalau nanti hubungannya harus berakhir? mungkin akan sangat dikenang jika hubungan mereka harus berakhir jika dipisahkan maut, tapi kalau dipisahkan orang ketiga? "oooh, I'm a dumbass" Ada pula yang senang pamer urusan pribadi mereka, misalnya saja bermanja-manja ria atau bahkan masalah pribadi yang sampai ke jejaring sosial.

Beberapa tahun kebelakang, saya pernah mendengar pepatah "kalau lagi jatuh cinta, tai kucing pun berasa coklat" well, mungkin bisa diterapkan pada beberapa bulan pertama, tapi lama kelamaan bisa saja coklat itu kembali mengeluarkan aroma tai kucingnya. Kejadian-kejadiian tadi merupakan kejadian yang dialami teman saya, bagaimanapun juga mereka tetap saja teman saya, tanpa mengurangi rasa hormat, berikut saya mengutip dari dialog sebuah TV Series "When someone's bad habit are pointed out to you, it's hard to ignore them. But if you love them enough, those bad habits are easy to forget."

If you think love is blind, then logic is not.

Thursday, February 17, 2011

Chosen Jobs

According to this web, job is defined as a piece of work, especially a specific task done as part of the routine of one's occupation or for an agreed price. In other way, let me say that job is a work that someone choose for getting money. There was plenty kind of jobs in the whole life, even something that people does not consider it as a job. As long what he is doing is about to make money, I will considered it as a job.

Ah, I once saw a person who offer people to weighing in their weight, and sure you have to paid after you weighing in your weight. That was sound ridiculous for me first, but then I realized that was one kind of jobs, though. All the people like this -no offense- people who might not have a great common job, left by less options than others. Like, yes, life is about choosing one of the options. Why do they choose these kind of job anyway? Maybe they have to risk their own life when doing their job. They might have only one options, and they of course have family to feed on. They just not have as many available options for their jobs as common others.


Plastic Keeper

Instant Photographer and his clown friend

Gardener in the Bank of Indonesia

Risk Takers

Heavy-weight courier

Monday, January 24, 2011

What A Support Means

Sore tadi saya baru saja selesai melewati tahap proposal hearing (sidang proposal) mengenai skripsi saya. Syukur Alhamdullilah tahapan itu sudah saya lewati dengan baik, meski banyak kekurangan mendasar dalam proposal tersebut. Sejak siang, bahkan sejak kemarin banyak teman yang memberikan dukungan moral dan semangat, rentetan ucapan good luck mereka berikan dengan tulus.

Setengah jam sebelum dimulai, badan ini rasanya aneh, dingin, semua organ sepertinya tidak bisa sinkron antara yang satu dengan yang lainnya (baca: lemes!) atau mungkin karena efek minum kopi yang berlebihan, sebelumnya saya sudah menghabiskan dua gelas kopi dalam rentang waktu 5 jam. Kemudian saya memberikan sugesti kepada pikiran ini, "Tenang, all iz well!."

Singkat kata, proposal hearing berlalu, dengan beberapa masukan dari panelis (yang saya catat, namun saya justru lupa apa yang harus dilengkapi!) Presentasi yang saya lakukan berjalan lancar, semua ini tentu tidak lepas dari beberapa ucapan good luck dari beberapa teman, dan bahkan mereka yang juga mendapat jadwal sidang proposal yang sama dengan saya. Setelah selesai, saya menyadari di perjalanan pulang saya, betapa dukungan itu sangat berharga.

Ada teman yang bilang good luck hingga dua kali, baik kemarin, dan hari ini. Ada juga yang menelpon saya ketika saya sedang memfotokopi master dari paper saya tersebut. Salah seorang teman bahkan rela meluangkan waktu makan siangnya khusus untuk mengucapkan support via twitter. Ada pula rekan saya dari kantor tempat saya menjalani program magang, yang sengaja menyiapkan waktu khusus untuk datang pada saat saya maju presentasi, namun ternyata dia salah mengira jadwal sidang saya yang harusnya berlangsung hari ini. Salah seorang teman juga memaksa saya untuk cepat saat membawakan presentasi, karena alasan ia ingin cepat pulang. Ya, dalam membawakan presentasi, seluruh isi kelas datang untuk menyaksikan jalannya sidang, dan ia memaksa saya untuk bisa menyelesaikan presentasi dalam waktu 5 menit! (yang ini bercanda ya)

Bagaimanapun, hal-hal tersebut adalah sebuah support yang luar biasa untuk saya. Ah! dan support yang paling dahsyat bagi saya adalah bagaimana ibu saya rela untuk pulang dari kantornya dengan dijemput menggunakan sepeda motor oleh ayah saya, dan meminjamkan mobilnya untuk saya bawa ke kampus. I love you mom!

Wednesday, January 19, 2011

Comment-star

Waktu itu saya sempat duduk di dalam kelas yang bukan jadwal kelas saya, kebetulan diajak oleh dosen pembimbing saya yang mengajar di kelas itu. Hari itu seisi kelas telah mengumpulkan berbagai macam poster dan flyer yang ditugaskan bapak dosen. Satu persatu kelompok diminta perwakilannya untuk menjelaskan bagaimana konsep dari pekerjaan yang telah mereka buat. Kemudian disediakan waktu kepada yang hadir di kelas itu untuk memberikan komentar, macam-macam komentar dilontarkan oleh seisi kelas. Awalnya saya mengira, ini akan seperti di kelas saya yang biasanya, mahasiswa yang lain tidak banyak melontarkan komentar mereka, dan akan membosankan.

Begitu intensitas komentar mulai menurun, dosen di kelas itu sekaligus dosen pembimbing saya, memberikan sedikit masukan untuk beberapa kelompok yang tadi sudah membagikan konsepnya. Kata-katanya yang mengundang tawa dan sekaligus nyentil adalah -dan saya pikir layak untuk dicetak tebal- "Kalau kita tidak bisa membuat sebuah ide, setidaknya kalian harus bisa memberikan komentar," dengan berkomentar anda bisa berpegang pada itu, orang yg bukan ahli dalam sepakbola aja bisa tuh berkomentar di televisi, dan kalian percaya aja lagi!

Beberapa waktu lalu memang di Indonesia sedang larut dalam euphoria sepakbola, dan benar saja belum tentu komentator yang ada di dalam tayangan sepakbola itu memang pemain sepakbola, atau pelatih sepakbola. Bisa saja hanya orang awam yang mengikuti perkembangan sepakbola, dan mereka dibayar untuk cuap-cuap di televisi!

Saya sering berkomentar, setiap hari selalu melihat updates dari beberapa blog yang saya follow dan updates dari media online lainnya. Biasanya komentar saya tertuang pada kicauan twitter, yang secara tidak sadar dengan adanya batasan 140 karakter, memungkinkan untuk menuangkan komentar dengan padat, dan jelas. Menanggapi isu pemblokiran produsen Blackberry, RIM di Indonesia dan penyaringan konten pornografi, kemudian saya berkomentar dalam akun twitter: Pak Mentri yg minta difilter ngga malu nih? RT @kompasdotcom: Filter Pornografi, RIM Minta Waktu 100 Jam (maksudnya RIM aja mampu menyaring dalam waktu 100 jam, pemerintah kita? udah berapa ribu jam?). Bahkan ketika ditanya anggota DPR mengenai posisi RIM di Indonesia, Pak Menteri pun masih bingung, apakan RIM itu sebagai penyedia konten, atau sebagai operator?

Atau komentar lain seperti: Salah headline nih bos? RT @detikcom: Akad Nikah Shireen Sungkar & Irwansyah Dimulai. Atau appresiasi singkat seperti: Jempol! RT @detikcom: Tak Ada Ricuh, Suporter Indonesia Bubar dengan Tertib. Dalam memberikan komentar, ada baiknya kita baca seluruh isi berita yang disajikan sebelum berkomentar, belakangan banyak yang berkomentar dengan hanya membaca beberapa petikan kalimat yang ada di dalam isi berita saja.

Pandangan saya secara pribadi, komentar berbeda dengan kritik, juga dengan complaint. Kritik yang pedas, secara umum hanya akan membuat orang yang dikritik berada pada posisi defensif, ia akan mempertahankan pendapatnya seberapa besarpun kesalahan yang ia perbuat (Baca: Lesson 1 Kritik). Setiap orang juga pada umumnya tidak suka dengan yang namanya complaint, namun coba tengok ke complaint yang berikut ini, cara penyampaian complaint ternyata bisa membuat perbedaan ketika kita membacanya.

Beberapa jam yang lalu, Gayus Tambunan divonis kurungan penjara selama 7 tahun dan denda sebesar Rp 300 juta. Ayo komentar! ;D

Thursday, January 13, 2011

The Beauty of Jakarta

Sunda Kelapa, Batavia, and Djakarta, these are the former name of the Special Capital Territory of Jakarta. From the art deco style influenced by colonial era to the Chinese ethnic decoration Jakarta has its own place for every visitor.

As a State Capital of Indonesia, Jakarta is the only city that has equal status with the province. Jakarta is located in the northwestern part of Java Island, with an area of more than 650 square kilometers.




The History

Jakarta is considered as the short name of the “Jayakarta”. This name was given by people of Demak and Cirebon under the leadership of Fatahillah (Falatehan) after attacking and occupying the port of Sunda Kelapa on June 22, 1527. The name is usually translated as the city or victory triumph town, but the true meaning is "victory was achieved by an act or effort."

Sunda Kelapa was the familiar name during 397-1527 because it is one of the busiest ports in the Kingdom of Sunda. In the 12th century, the port is known as a busy port of pepper. Foreign ships coming from China, Japan, South India, and the Middle East are already docked at the port carrying goods such as porcelains, coffees, silks, fabrics, perfumes, horses, wines, and dyes in exchange for spices, main commodity at that time.

Batavia used when the Dutch colonized Indonesia during the 1619 to 1942 period. This name was given by Jan Pieterszoon Coen who was General Governor of Dutch East Indies. Coen actually wanted to call this city as the Nieuwe Hollandia, but de Heeren Seventien in the Netherlands decided to name the city into Batavia, to commemorate the nation Batavieren. Batavia only covered the area which is currently known as Old town in North Jakarta.

The tribes of ethnic immigrants were forming communities of each region creating territories of the former community like Chinatown, Pekojan, Kampung Melayu, Kampung Bandan, Kampung Ambon, Kampung Bali, and Manggarai. Till this day, Batavia is still attached at the Jakarta community in fact one of the cafes in the Old City area is still using the word of Batavia

Under Japanese colonial period Batavia changed into Djakarta to captivate people. Jakarta was part of West Java Province before 1959. The status was changed into Jakarta Special Capital Region by Ir. Sukarno, the first President of the Republic of Indonesia and Dr. Sumarno Sosroatmodjo as the governor. Since then, Jakarta residents rapidly increase due to manpower need in almost all central governments in Jakarta. Within five years the population doubled more than twice.

Sunda Kelapa Port


Located about eight kilometers in the western part of Tanjung Priok port, Sunda Kelapa port is the Jakarta original beauty that still remarkable. Sunda Kelapa has changed its names many times since Portuguese and Japanese colonized Indonesia. The initial name was Sundapura which was occupied by Tarumanegara Kingdom lead by Purnawarman. It is successfully conquered by Padjajaran Sundanese Hinduism Kingdom centered in Pakuan, Bogor, West Java.

Fatahillah Prince then successfully united Moslem Kindom in Cirebon, Demak, and Banten to deport Portuguese that had expanded their territories in Sundapura as well as conquered Padjajaran Sunda Hinduism. Local tourist guide said that many foreign tourist mistaken Sunda Kelapa as a museum but in fact it can be considered as an open museum. Sunda Kelapa has indeed been internationally recognized by tourist. Another comparison is Lebanon port that has been established since 3000 SM.

If you visit this port you can see, Phinisi, traditional Indonesian boat alongside the port waters. Phinisi is one of the traditional prides of Indonesia that has uniqueness in its making process. Commonly, people make the hull first then continue with the vessel wall. Meanwhile,

Phinisi production process start from the vessel walls then continue to the hull, Original Phinisi has small and round forefront and usually has two pillars to unfold seven sails. These seven sails interpreted as their power to sail through seven oceans in the world.

Phinisi in Sunda Kelapa port has centre room inspired by Dutch style with 70% made from woods and the other 30% made from metals. Ironwood is the main material from Borneo and Sumatera islands.

Sunda Kelapa port has been attracted foreign tourists to visits and explores the glory of old Batavia. Most of the tourists come from Netherland, Japan and Australia. There will be tourist guide stand by to escort the visitors to the best spot of Sunda Kelapa. They are also capable to give description of the old Sunda Kelapa atmosphere.

Another attraction of Sunda Kelapa is its function as the port heading to Thousand Islands. The rented boat price is varies from IDR3 million for domestic tourist to IDR5 million for foreign tourists. To trace down this heritage culture you can just pay for IDR2 thousand for parking. If the history of ancient Sunda Kelapa will amuse you then paying tourist guide for IDR80 thousand for domestic tourists and USA12 for foreign tourist is worthwhile.


Mestizo

The culture in Jakarta is a Mestizo, in the Portuguese language means mixture. Jakarta was inhabited by various ethnic mixes along with their respective cultures. Since the Dutch colonial era, Jakarta is a city that attracted immigrants from domestics and foreigner tourists, as well as those looking for a job.

There are some tribes who inhabited the city for example: Javanese, Sundanese, Minangkabau, Batak, and the Bugis. The composition of the population living in Jakarta is dominated by Javanese; then Betawi, indigenous people of Jakarta; Sunda; and Chinese.

Chinese residents, who had been present since the 17th century, also became one of the major ethnic groups in Jakarta. They used to stay clumped in areas of their own settlements, commonly known as Chinatown. Chinatown or a Chinese village can be found in Glodok, Pinangsia, and Jatinegara. Another Chinatown area quite famous is Petak Sembilan. There are traditional markets that sell various goods, with Chinese ornaments decorated the street.

Ethnic diversity in Indonesia was mirrored in the capital city of Jakarta. Almost all ethnic groups in Indonesia can be found in Jakarta. Jakarta whose population has grown approaching to 10 million people is one of the cities in Asia, which is much often talked about. This historical town has extraordinarily developed and would be at the forefront in Asia over the next few decades.

Not only unique with its status as the capital city of Indonesia Jakarta also a center of social and cultural activities. It is the prominent gateway of Indonesia.

It’s a Magnet

Cultural diversity supported by the government in order to increase domestic and foreign tourists visit. While conducting business, people usually spend more time in Jakarta for vacation. Many people are attracted to visit Jakarta because the city provides almost all of the tourists needs.

For those who like the tropical climate, Jakarta has a warm weather every day. Historical factors also become one of the main attractions. Jakarta still preserved historical values of old buildings that still majestically stand at the heart of Old Town.

Old Town is a historical treasure considered as one of the largest stands of original colonial-era architecture in Asia. The governments have been proposed several master plans to refurbish Old Town. Old Town should illuminated Jakarta as the well preserved architectural.


Ancient buildings can be found in this area. Precious historic relics are also exhibits in some famous museums in Jakarta like Museum Nasional, Museum Wayang, Museum Tekstil, dan Museum Fatahillah.

Jakarta also offers shopping tour for shopaholic. As a growing city, Jakarta has many large shopping centers in downtown. ‘Enjoy Jakarta’ is a yearly program organizing by the government in attracting tourists visit that taken place at grand shopping centers throughout Jakarta. If you want to crave luxury items then this city is heaven. Meanwhile sculpture, handicraft and painting offer in the many big shopping centers.

For those who want to take the children on vacation, you should visit Ragunan Zoological Park. Established in 1864 and moved to its present location in the southern suburbs of Pasar Minggu, South Jakarta in 1966. The zoo covers 135 hectares of beautiful, shady gardens. It is home to over 260 species of animals from all parts of Indonesia and the rest of the world. There are a total of 3122 animals including birds for public viewing pleasure.


These exhibits also serve to help zoo officials in the preservation and propagation of Indonesian Wildlife. Special attractions for the children include a Children's Zoo and playground, along with the Sunday events of elephant, pony cart and boat rides. Watching the orang utans on their daily tour of the zoo grounds in a pony cart is a special treat for visitors of all ages. Restaurant facilities and picnic shelters are available for your convenience as well as merchandise store for purchasing films and souvenirs.

Ragunan Flower Park provides almost 30.000 plants, grasses and trees of approximately 250 different species compliment the multiple purpose of the park. Ornamental plants, like Bougainvillea, Pachystachys and Chinese hibiscus dot the landscape of Ragunan Zoological Park.

Come and spend a day with the family or friends at Ragunan Zoological Park. It's a wonderful place for an outing and will become an experience which will raise your awareness of Indonesia's unique wildlife heritage



Wednesday, January 12, 2011

Smart! Smoke

Sambil ngopi, selain baca buku atau majalah, hal yang paling enak dan paling sering saya lakukan adalah sambil merokok. Setelah memesan segelas americano panas, lalu saya nyari tempat duduk yang paling nyaman buat tempat menyangga pantat.

Di kedai kopi dengan logo burung merak itu, disediakan ruang khusus buat mereka yang merokok. Memang masih banyak kursi kosong diruangan tersebut, tapi saya hanya tertuju pada satu kursi yang paling menarik perhatian saya yang berada di pojok ruangan persis di sebelah jendela. Nggak lama setelah menyingkirkan nampan bekas pengunjung sebelumnya yang masih berada di meja, kemudian saya cari posisi supaya pantat ini nyaman sama kursi sofa kecil, dan baru saya sadar ternyata di lantai persis di bawah meja dan kursi itu begitu banyak abu rokok yang bertebaran. Heran. Konyol. Hal yang paling konyol adalah di nampan bekas pengunjung sebelumnya ada sebuah cup kecil tempat untuk gula cair yang disulap jadi asbak yang puntung-puntung rokoknya sudah menyembul keluar. Lalu kenapa mesti anda atau saya membuang abu rokok tepat ke atas lantai? Bukan hanya lantai yang menjadi kotor, sofa kecil itu pun ikut kena akibatnya.

Nggak lama setelah itu, satu pelayan datang menghampiri saya, "Permisi, saya angkat ya nampannya." "Oke silahkan." Pelayan itu mengangkat nampan bekas pengunjung sebelumnya yang masih berantakan di meja saya, sekitar dua menit setelah itu pelayan itu kembali lagi sambil membawa sapu kemudian kembali meminta ijin pada saya untuk membersihkan abu rokok yang berserakan di bawah meja saya, kemudian saya iseng nanya dia, "Banyak yang begini mas?" "Iya mas, padahal udah dikasih asbak, tapi tetep aja buang abu nya ke lantai." jawab si pelayan tadi dengan raut muka agak kesal. Saya cuma bisa memberi si pelayan itu senyum plus ucapan terima kasih.

Saya pernah suatu kali ditegur oleh turis bule ketika saya buang puntung rokok seenaknya, dia bilang "He.. He.. You can't do that." Rasanya? Malu gak karuan. Apalagi saya buangnya tepat ke tengah laut, mau diambil lagi juga gak bisa (gak bisa berenang maksudnya) dan biarpun saya ambil lagi juga tetep gak bisa mengembalikan rasa malu saya. Sejak saat itu saya sadar, banyak aturan tidak tertulis tentang etika merokok. Pernah juga ada teman yang kesal kalau sedang duduk bersama perokok yang menyemburkan asap tepat ke mukanya! Be smart when you smoke!

By the time I write this post, there's a response to my post. (Wow!) As life always have two sides, head and tail, good and bad, yin and yang, beauty and the beast (huh?) this is a great way to make me concern about a phrase "smoking kills" -thanks for your response- :) oh, can I get that Death's-Head Ashtray for my upcoming birthday present? ;p